Wawasan Kebangsaan bagi Muslim Indonesia menurut M. Natsir

Oleh: Dr. K.H. Anwar Abbas
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Allahyarham Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri Indonesia) pernah membuat tulisan/ceramah berjudul: Apakah Pancasila bertentangan dengan ajaran Al-quran? Dia mengatakan bahwa Al-quran itu adalah dasar hidup (bagi orang islam). Ia adalah induk dari serba sila (Pancasila) yang memberi nilai-nilai hidup yang menghidupkan.

Oleh karena itu, kata Natsir, Pancasila tidak boleh dipertentangkan dengan Al-quran, karena Al-quran membawakan tauhid, kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa. Dan tauhid tersebut akan menumbuhkan dalam tiap-tiap jiwa orang yang beriman kesadaran akan harga diri mereka sebagai hamba Allah di samping hamba-hamba Allah yang lain.

Dan Al-quran itu, kata Natsir lagi, jelas datang bukan untuk menghapus bangsa dan kebangsaan karena hal itu sudah merupakan sunnatullah dimana kita di dalam Al-quran disuruh untuk saling kenal mengenal dan saling harga menghargai. Jadi islam dan atau Al-quran itu datang untuk meletakkan dasar2 yang sehat untuk hidup suburnya suatu bangsa di dalam pergaulan kekeluargaan bangsa-bangsa.

Selanjutnya, Natsir dalam tulisannya tersebut juga menyinggung tentang sejarah, dimana beliau menyatakan bahwa perumusan Pancasila itu adalah hasil musyawarah antara para pemimpin pada saat taraf perjuangan kemerdekaan memuncak di tahun 1945.

“Saya percaya bahwa di dalam keadaan yang demikian para pemimpin yang berkumpul itu, yang sebagian besarnya adalah beragama islam, pastilah tidak akan membenarkan sesuatu perumusan yang menurut pandangan mereka adalah nyata-nyata bertentangan dengan asas dan ajaran islam.” Demikian Natsir.

Oleh karena itu dalam kesimpulannya, beliau dengan tegas menyatakan :

  1. Bagaimana mungkin Al-quran yang memancarkan tauhid akan terdapat apriori bertentangan dengan ide Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Bagaimana mungkin Al-quran yang ajaran-ajarannya penuh dengan kewajiban menegakkan “al-adalah al- ijtima’iyah” bisa apriori bertentangan dengan keadilan sosial?
  3. Bagaimana mungkin Al-quran yang justru memberantas sistem feodal dan pemerintahan istibdad atau sewenang-wenang, serta meletakkan dasar musyawarah dalam susunan pemerintahan, dapat apriori bertentangan dengan apa yang dinamakan kedaulatan rakyat?
  4. Bagaimana mungkin Al-quran yang menegakkan istilah “al- ishlahu bainannas” sebagai dasar-dasar yang pokok yang harus ditegakkan oleh umat Islam, dapat apriori bertentangan dengan apa yang disebut perikemanusiaan?
  5. Bagaimana mungkin Al-quran yang mengakui adanya bangsa-bangsa dan meletakkan dasar yang sehat bagi kebangsaan apriori dapat dikatakan bertentangan dengan kebangsaan?

Jadi dalam kesimpulan Natsir bagaimana mungkin Al-quran akan bertentangan dengan Pancasila terutama sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa kalau yang dituju oleh sila pertama tersebut adalah menegaskan kepada segala warga negara dan penduduk negara serta dunia luar bahwa sesungguhnya seorang manusia tak akan dapat memulai kehidupannya menuju kebajikan dan keutamaan kalau ia belum dapat menyadarkan dan mempersembahkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi, kata Natsir lagi, di mata seorang muslim Pancasila bukanlah barang asing yang berlawanan dengan ajaran Al-quran. Dalam pandangan beliau Pancasila itu mengandung tujuan-tujuan islam tetapi Pancasila itu bukanlah berarti islam. Dan beliau sangat yakin bahwa di dalam iklim islamlah Pancasila itu akan hidup subur sebab kata beliau iman atau kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu tidak dapat ditumbuhkan dengan semata-mata hanya mencantumkan kata-kata dan istilah Ketuhanan Yang Maha Esa itu saja di dalam perumusan Pancasila itu.

Oleh karena itu, apabila sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai urat tunjang bagi sila berikutnya, itu hanya sekedar buah bibir saja maka itu berarti sudah tumbang. Dan akibatnya tentu saja seluruh sila-sila yang lainnya akan hampa dan tidak mempunyai bentuk yang jelas sehingga yang tinggal adalah hanya kerangka dari Pancasila tersebut sehingga mudah sekali dipergunakan untuk penutup tiap-tiap langkah perbuatan yang tanpa sila dan tidak berkesusilaan sama sekali.

Untuk itu, Natsir mengharapkan supaya Pancasila tidaklah diisi dengan ajaran yang menentang-nentang kepada Al-quran yang sudah semenjak berabad-abad telah menjadi darah daging bagi sebagian terbesar dari bangsa kita ini.

Dan di samping itu janganlah pula ia dipergunakan untuk menentang terlaksananya kaidah-kaidah dan ajaran yang termaktub dalam Al-quran itu karena Al-quran itu bagi orang Islam adalah induk dari semua sila yang ada dalam pancasila tersebut dan dia merupakan pedoman hidup bagi umat islam yang isinya ingin mereka sumbangkan kepada pembinaan bangsa dan negara.

Ciputat, Sabtu, 5 juni 2021.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s