Kaji Falsafah Kurban, PCIM Malaysia Hadirkan Dr. Saidul Amin: “Kesalehan Butuh Proses Sabar (Halim)”

Batu Caves, Selangor — Pada Selasa (26/5) malam Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia sukses menyelenggarakan pengajian akbar spesial bertajuk “Falsafah Pengorbanan Nabi Ibrahim & Ismail” di Rumah HAMKA Malaysia.

Acara yang dihadiri oleh warga Muhammadiyah dan masyarakat umum, hadir juga perwakilan KBRI Kuala Lumpur Atase pendidikan Ir. R Ahmad Romadhoni Surya Putra.

Acara ini menghadirkan Dr. Saidul Amin, Vice Chancellor Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) sekaligus Rektor UMRI dan Ketua MUI Riau, sebagai narasumber utama.

Dalam paparannya, Dr. Saidul Amin memberikan analisis tafsir yang mendalam mengenai rahasia di balik doa Nabi Ibrahim AS.

Beliau menyoroti perbedaan antara permintaan Ibrahim yang memohon anak yang Soleh, namun dijawab oleh Allah dengan kabar gembira tentang kelahiran anak yang halim (penyabar/santun).

“Soleh itu ibarat nasi, sebuah hasil akhir atau produk jadi. Sedangkan Halim itu ibarat padi, sebuah benih atau proses. Allah memberikan Nabi Ismail sifat Halim sebagai ‘bahan baku’ utama, karena tanpa kesabaran dalam berproses, seseorang tidak akan pernah mencapai derajat kesalehan yang sejati,” jelas Dr. Saidul Amin melalui perumpamaan budaya lokal yang akrab di telinga jamaah.

Beliau juga menekankan bahwa sifat halim inilah yang menjadi modal utama bagi Nabi Ismail AS sehingga mampu melewati ujian penyembelihan yang sangat berat.

Bagi kader Muhammadiyah, pesan ini menjadi pengingat bahwa kesalehan berorganisasi dan beragama membutuhkan ketangguhan dalam menghadapi proses dan ujian hidup, bukan sekadar tampilan luar.

Selain membahas karakter, Dr. Saidul Amin juga mengupas dimensi ujian melalui mimpi (ar-ru‘ya) yang dialami Nabi Ibrahim. Menurutnya, menjalankan perintah seberat menyembelih anak kandung hanya berdasarkan mimpi adalah ujian iman tingkat tertinggi.

“Melaksanakan perintah melalui mimpi membutuhkan haqqul yaqin (kepastian iman) yang luar biasa. Nabi Ibrahim membuktikan bahwa beliau adalah pribadi yang sangat peka secara spiritual, mampu membedakan mandat langit dari bisikan lainnya,” tambahnya sembari memberikan analogi jenaka yang mengundang tawa jamaah untuk mencairkan suasana.

Acara yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 22.00 ini diawali dengan salat Magrib berjamaah, lantunan takbiran, dan ditutup dengan salat Isya berjamaah.

Perwakilan PCIM Malaysia menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan kajian berkualitas yang menyentuh sisi spiritual sekaligus intelektual umat, sejalan dengan slogan “ilmu, iman, amal, islah” yang dijunjung tinggi persyarikatan.

MPI PCIM Malaysia

Leave a comment