Polemik SPP Sekolah Selama Pandemi Covid-19

BireunOleh: Rizki Dasilva
(Kepsek SDIT Muhammadiyah Bireuen, Mahasiswa S3 Pendidikan UPSI, Anggota MPIH PCIM Malaysia)

Sebenarnya saya tidak ingin menulis tentang ini. Karena persoalan bayar membayar sangat sensitif untuk di bicarakan. Apalagi dengan kondisi pandemi saat ini. Kita dipaksa oleh makhluk halus corona untuk tetap dirumah dan pemerintah meliburkan sekolah.

Sebagai guru seandainya disuruh memilih, kami tidak memilih libur sekolah. Kami tidak ingin belajar online dirumah. Jujur kami lebih memilih mengajar dikelas kalau pemerintah mengizinkan, walaupun kami harus menghadapi virus mematikan semacam corona. Demi anak-anak kami supaya mendapat pendidikan yang baik dan terkontrol disekolah. Dari hati yang dalam kami rindu siswa-siswa kami.

Sebagai guru, saya termasuk sangat sedih, ketika beberapa hari yang lalu ada yang menyindir di media sosial facebook, walau hanya meme “guru makan gaji buta karena siswa tidak sekolah”. Pernyataan seperti tidak pantas di ucapkan oleh siapapun. Apalagi dalam kondisi seperti ini.

Guru tetap berstatus guru walau tidak mengajar di kelas. Semua yang diusahakan disekolah tidak boleh dihargai dengan uang. Lebih-lebih kami sebagai guru swasta. SPP yang dibayar oleh orangtua siswa selama ini adalah bahagian dari ibadah dan infak untuk membangun pendidikan, terutama pendidilan Islam. ALLAH mencatat sebagai amal kebaikan.

Saya ingin tegaskan lewat tulisan ini. Sistem pembayaran SPP sekolah tidak boleh disamakan dengan pembayaran Air Pam, pembayaran listrik, pembayaran ojek online, pembayaran jasa transportasi. Siswa selama 6 tahun berstatus sebagai siswa wajib membayar infak SPP. Jadi tidak ada hubungan dengan guru masuk kelas atau siswa tidak masuk kelas. Maka sungguh aneh, bila guru disamakan dengan pembayaran listrik, saat dipakek maka dibayar. Jangan pula guru saat dipakai baru dibayar. Karena semua yang dilakukan guru disekolah membekas bagi anak sampai kapanpun. Bahkan menjadi inspirasi sampai ke masa depannya.

Tidak bisa dipungkiri selama pandemi virus corona ada beberapa usaha orantua macet. Pihak sekolah juga harus mengerti. Maka orangtua siswa dalam hal ini bisa mendiskusikan langsung dengan kepala sekolah. Saya yakin akan Ada jalan keluar lebih bijaksana yang akan disepakati oleh kedua belah pihak. Bahkan selama ini di SDIT Muhammadiyah Bireuen sudah banyak membantu siswa fakir miskin meringankan SPP  tahun ini lewat Lazismu Bireuen khusus siswa berasal dari orangtua fakir miskin di bebaskan SPP.

Tapi tetap jangan hanya guru tidak mengajar dikelas, dianggap tidak perlu bayar SPP. Pemikiran seperti ini perlu diluruskan. Karena pembayaran SPP itu bukan untuk membayar upah guru. Tapi sebagai sumbangsih, kepedulian dan infak kita untuk membangun pendidikan ummat saat ini. Khususnya Ummat Islam.

Semoga Allah membalas semua kebaikan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s