Antara Mazhab dan Sunnah

Oleh: Dr. M. Arifin Ismail, MA

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya di jalan Allah dan janganlah kamu berpecah belah “
(Surah Ali Imran : 103 ).

Dalam agama, ada perkara yang telah ditentukan kewajibannya, sehingga ia menjadi WAJIB, dan sesuatu yang wajib itu dilakukan dapat pahala, ditinggalkan akan berdosa. Ada juga perkara yang telah ditentukan larangannya sehingga menjadi HARAM, yaitu sesuatu dilakukan mendapat dosa dan ditinggalkan berpahala.

Disamping keduanya, ada perkara yang dianjurkan untuk dilakukan, yaitu perkara yang SUNAT dimana jika dilakukan mendapat pahala dan jika ditingalkan tidak berdosa.
Ada lagi perkara yang dianjurkan untuk tidak dilakukan, yaitu perkara MAKRUH, dimana jika dilakukan tidak mengapa, dan jika ditinggalkan, tidak berdosa.

Setelah itu ada perkara yang tidak diwajibkan, juga tidak dilarang, juga tidak dianjurkan untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Hal itu adalah perkara harus atau MUBAH, yaitu perkara yang tidak ditentukan sama sekali, boleh dilakukan dan juga boleh ditinggalkan.

Ketentuan hukum ini berdasarkan hadis Nabi saw :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah membuat ketentuan ketentuan (hudud), maka janganlah kamu melanggarnya. Allah Ta’ala juga telah menetapkan kewajiban-kewajiban, maka jangan kamu mengabaikannya. Allah juga telah mengharamkan beberapa perkara, maka jangan kamu melanggarnya, dan Allah juga telah mendiamkan banyak perkara sebagai rahmat bagi kamu, bukan karena lupa, dan janganlah kamu mencari-carinya ” (Hadis diriwayatkan oleh Daruqtni, dengan kedudukan hadis hasan ).

Dalam hadis yang lain, disampaikan oleh Abu Darda’ dinyatakan:

“Apa yang Allah telah halalkan dalam kitabnya maka itu menjadi halal, dan apa yang Allah haramkan dalm kitabnya, itu juga menjadi haram, dan apa yang Allah DIAMkan (tidak diharamkan dan tidak diwajibkan ) itu merupakan rahmat Allah, maka terimalah rahmatNya tersebut.
Sesungguhnya Allah tidak pernah LUPA akan sesuatu, kemudian nabi membaca ayat “dan tidaklah Tuhanmu itu lupa“ (Surah Maryam /16 : 64).

Perkara yang didiamkan (tidak diwajibkan dan juga tidak dilarang dan tidak ada dalam nash) berarti membuka peluang IJTIHAD bagi ulama untuk mengambil hukumnya, apakah dengan jalan ijtihad melalui Ijma’ (kesepakatan sahabat), atau dengan jalan Qiyas (analogy),
atau memakai jalan Istihsan ( mencari sesuatu yang lebih baik), atau dengan jalan Istislah (sesuatu yang lebih sesuai ) atau dengan memakai jalan “Urf“ ( kebiasaan dalam masyarakat ).

QIYAS (analogi) dapat menjadi sumber hukum berdasarkan hadis nabi yaitu:

” Sewaktu Rasulullah akan mengutus sahabat Muadz bin Jabal untuk menjadi gubernur negeri Yaman, maka Rasulullah bertanya: “Wahai Muadz, dengan apa engkau menghukum sesuatu ? Muadz menjawab : Dengan Kitabullah“. Rasul bertanya lagi: ‘Jika engkau tidak mendapatkan perkara tersebut di dalam Kitabullah, maka dengan apa engkau mengambil keputusan “ Muadz menjawab: “Dengan Sunnah Rasulullah“.
Kemudian Rasulullah bertanya lagi: “Jika perkara tersebut TIDAK engkau dapatkan di dalam kitabullah dan sunnah rasulNya, maka dengan apa engkau memutuskan?“, Muadz menjawab: “berijtihad dengan akal pikiranku “. (riwayat Tirmidzi ).

IJMA’ (kesepakatan sahabat terhadap sesuatu hukum) juga dapat menjadi sumber hukum berdasarkan hadis Nabi,dari Abi Basrah al Ghifari, bahwa Rasulullah bersabda: “Aku meminta kepada Allah agar agar umatku tidak bersepakat dalam kesesatan, maka Allah mengizinkan permintaanku tersebut”.
Hadis riwayat Imam Ahmad dalam musnadnya.

Jika Allah tidak mengizinkan umat Muhammad bersepakat dalam kesesatan, berarti umat Muhammad dapat berSEPAKAT dalam KEBENARAN. Inilah yang menjadi asas bagi adanya hukum Ijmak dalam pengambilan sumber hukum Islam.

Ulama mazhab dalam ahlussunnah menjadikan al Quran Hadis, Ijma’ dan Qiyas sebagai Dasar hukum, walaupun ada sebagian lain seperti mahab Dzahiry menjadikan al Quran dan Sunnah sahaja sebagai sumber hukum dan tidak mengakui Ijmak dan Qiyas, Demikian juga sebagian kelompok masyarakat yang mengikuti metode Dhahiry.

Akhir-akhir in, ada kesan seakan-akan mengikut ajaran mazhab itu berarti tidak mengikut ajaran sunnah nabi dan sahabat. Benarkah demikian..?
Mari kita meneliti Sejarah Perkembangan Mazhab .

Pada awal perkembangan hukum Islam, tidak ada mazhab, sebab semua merujuk kepada NABI MUHAMMAD SAW,
dan setelah meninggal Rasul, SAHABAT menjadi rujukan hukum, sebab mereka yang paling mengetahui ucapan, dan perbuatan Rasulullah.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, dengan bertambah luasnya daerah kekuasaan Islam, maka banyak sahabat dari Madinah berpindah ke kota di kawasan Islam, seperti Mesir, Syam, Kufah, Baghdad, Yaman, dan lain sebagainya.

Di kawasan tersebut, sahabat nabi mengajarkan agama Islam dan hukum-hakam, dan mereka menjadi tempat rujukan masyarakat disekitarnya.
Masyarakat disekitarnya belajar dari sahabat-sahabat tersebut dan mengambil bacaan al Quran, dan Hadis tersebut dari mereka.

Pengikut dan murid dari sahabat itu dinamakan TABI’IN (pengikut sahabat)
dan murid dari Tabiin dinamakan TABIUT TABIIN ( Pengiku dari pengikut)

Pemahaman agama dan amalan agama yang berkaitan dengan hukum fiqih ini dari para Sahabat Nabi inilah yang menjadi pegangan bagi masyarakat di Kufah, Madinah, Yaman, Mesir dan lain sebagainya.

Tidak semua sahabat akan mendengar hadis yang sama, dalam satu perkara, sehingga kadang kala hadis yang disampaikan oleh sahabat di masyarakat Mesir, tidak sama dengan ajaran dari sahabat yang tinggal Madinah, walaupun kedua pendapat tersebut adalah BENAR, sebab kedua sahabat tersebut sama-sama mendengar dari Nabi Muhammad tentang satu perkara dalam dua hadis yang berbeda, dalam keadaan yang berbeda.

Biasanya perbedaan tersebut bukan pada ajaran asas dalam agama seperti masalah tauhid, tetapi berkaitan dengan amal-amal yang dibolehkan berbeda dalam masalah khilafiyah dalam perkara yang sunat.

IMAM HANAFI pendiri Mazhab Hanafi, lahir di Kufah, tahun 80 Hijah dan berguru dengan Tabi’in Ikrimah, pembantu Abdullah bin Abbas, Nafi’, pembantu Umar bin Khattab, Hammad bin Abi Sulaman, murid dari sahabat Ibrahim al Nakhai, dari Alqamah dan dari sahabat nabi Abdullah bin Mas’ud.

Ilmu yang diperoleh dari Abdullah bin Mas’ud tersebut dikembangkan baik keputusan hukumnya, maupun dalam metodologi cara mengambil keputusan hukum oleh Imam Hanafi. Metodologi pengambilan keputusan hukum yang dikembangkan oleh Imam Hanafi tersebut disebut dengan MAZHAB HANAFI .
Berarti keputusan hukum mazhab Hanafi berdasarkan ilmu fiqih yang diajarkan oleh sahabat Nabi dan tabiin.

IMAM MALIK, pendiri mazhab Maliki, lahir tahun 93 Hijrah, dan berguru dengan Abdurahman bin Hurmuz, Rabi’ah bin Abdurrahman, Muhammad bin Muslim bin Syihab az Zuhri, Ja’far bin Muhammad Baqir, dan tabiin yang lain yang berdiam di kota Madinah.

Sejarah mencatat bahwa Imam Malik berguru lebih dari 70 ulama tabi’in yang berada di Madinah.
Imam Malik mengajarkan dan mengembangkan metodologi ilmu fiqah yang didapat dari para tabi’in tersebut sehingga dikenal dengan Mazhab Maliki berdasarkan keputusan hukum, dan fatwa guru-guru beliau yang terdiri dari para Tabiin yang mendapatkan ilmu tersebut dari para sahabat Nabi yang terdahulu.

IMAM SYAFI’I, pendiri mazhab Syafii, lahir pada tahun 150 Hijrah, di Ghaza, Palestina, dan kemudian beliau dibesarkan di Makkah.
Selama di Makkah, beliau berguru dengan mufti Makkah, Muslim bin Khalid al Zanji. Beliau kemudian mengembara ke Madinah dan berguru dengan Imam Malik dan duduk di Madinah sampai Imam Malik meninggal dunia. Kemudian beliau berangkat ke Yaman dan berguru dengan Umar bin Abi Salamah, sahabat dari Imam Auza’i

Setelah dari Yaman, beliau pergi ke Irak, dan berguru dengan Imam Syaibani, sahabat dari Imam Abu Hanifah. Setelah itu beliau berangkat ke Mesir dan berguru dengan Imam Lait bin Sa’ad.
Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa Imam Syafii juga berguru yang bersanad dengan para sahabat dan tabi’in yang tersebar di kota Madinah,Baghdad, Yaman, dan Mesir.

IMAM AHMAD bin Hanbal, lahir tahun 164 Hijrah di Baghdad. Beliau berguru dengan ulama besar seperti Sofyan bin Uyanah, Yahya al Qattaan, Walid bin Muslim, Qadzi Abu Yusuf (murid Imam Hanafi ), dan juga berguru dengan Imam Syafii sendiri (Pengantar Syariat Islam, m.s.162).
Beliau mendapatkan ilmu dari Tabi’in, dan tabiut Tabiin, dan mengembangkan ilmu dan metodologi pemikiran fikah yang dipelajarinya dan berkembang dengan nama Mazhab Hanbali.

Dari keterangan diatas dapat diketahui bahwa seluruh Imam Mazhab adalah MURID dari Tabi’in atau Tabiut Tabi’in, yang mendapatkan ketetapan hukum berasal dari hadis yang bersumber dari para sahabat Nabi yang tersebar di seluruh negeri Islam.

Oleh sebab itu TIDAKLAH LAYAK jika ada yang menyatakan bahwa pendapat mazhab itu tidak sesuai dengan sunnah, sebab pendapat mereka semua berdasarkan sunnah yang mereka dapat dari guru mereka dengan ilmu yang bersumber langsung dari sahabat Nabi.

Pada saat ini, setelah seluruh kitab hadis tertulis, maka ada sebagian masyarakat yang mengambil hukum dengan membaca hadis dari kitabnya dan mencari kesimpulan sendiri dari hadis dan sunnah yang dibaca, tanpa melalui metodologi yang dipakai oleh Imam Mazhab. Mereka menamakan diri dengan pengikut SUNNAH*.

Hal ini juga adalah sama dengan pengikut mazhab yang mengambil hukum dari Imam Mazhab mereka, sebab imam dan ulama mazhab juga mengambil keputusan hukum berdasarkan sunnah yang disampaikan oleh pengikut sahabat, Tabi’in yang berguru kepada para Sahabat Nabi.

Baik para pengikut mazhab, maupun pengikut sunnah, keduanya adalah BENAR, sebab kedua pengikut tersebut mengambil hukum dari sumber al Quran dan Hadis atau Sunnah Nabi Muhammad saw. yang dibacakan oleh guru imam mazhab yang terdiri dari sahabat dan tabi’in atau tabi’ut tabi’in.

Dari kajian sejarah Imam Mazhab diatas dapat dilihat bahwa para Imam Mazhab juga merupakan ulama yang mengambil hukum dari para para sahabat atau pengikut sahabat atau pengikut tabi’in, yang disebut dengan GENERASI SALAF

Berarti pengikut mazhab juga dapat disebut dengan pengikut ajaran salaf, malahan seperti Imam Hanifah itu termasuk dalam Tabi’ut Tabi’in, sebab beliau berguru dengan Tabi’in. Imam Malik juga berguru dengan Tabi’in, dan Tabiut Tabi’in,
demikian juga Imam Syafii dan Hanbali, sehingga dapat dikatakan bahwa mengikuti salah satu mazhab atau mengikuti ajaran sunnah yang disampaikan oleh generasi salaf, sebagaimana ajaran yang diikuti oleh kelompk salaf dan pengikut sunnah.

Hal ini dapat diumpamakan bahwa pengikut mazhab ataupun sunnah adalah bagaikan orang mengambil buah yang sama dari dahan yang berbeda, yang tumbuh dari batang pokok dan akar pokok yang sama.

Semoga kita dapat menghargai perbedaan paham antara pengikut mazhab atau pengikut sunnah.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata:“Saya tidak suka jika para sahabat itu tidak berbeda pendapat, sebab seandainya mereka tidak berbeda pendapat niscaya tidak aka ada keringanan bagi kita hari ini untuk menjalankan agama “. (riwayat Baihaqi ).

Syeikh Mar’i al Hanbali dalam kitab “Tanwiru Masyairil Muqallidin” berkata:“Sesungguhnya perbedaan madzhab dalam agama ini merupakan rahmat dan keutamaan yang besar.
Rahasia ini hanya diketahui oleh orang yang alim, dan tidak dapat diketahui oleh orang yang jahil.

Perbedaan pendapat merupakan kekhususan umat Islam dan keluasan dalam syariat yang mudah ini“.

Fa’tabiru ya Ulil albab
Muhammad Arifin Ismail

(Renungan Jumat ISTAID No 1.246 / Maret 2017)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s