Inilah Jati Diri Muhammadiyah

Oleh: M Husnaini

Buku ini wajib dibaca oleh segenap anggota, kader, aktivis, apalagi pimpinan, dan termasuk yang berada di amal usaha Muhammadiyah. Sebagaimana judulnya, buku karya Haedar Nashir ini sangat komprehensif dalam mengupas ideologi Muhammadiyah. Banyak buku-buku tentang ideologi Muhammadiyah. Kelebihan buku ini ialah menyajikan substansi, relasi, strategi, dan revitalisasi dari pemikiran-pemikiran ideologi Muhammadiyah itu berdasarkan rujukan-rujukan resmi.

Haedar Nashir, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sangat produktif, telah melahirkan sekitar 15 judul buku, yang sebagiannya tentang Muhammadiyah. Di antara karakter utama tulisan doktor Sosiologi Universitas Gadjah Mada ini adalah rujukannya yang akurat dan bahasanya yang lincah.

Seperti buku ini, kajiannya fokus pada Perkembangan Ideologi (Bab I), Ideologi Muhammadiyah (Bab II), Mukadimah AD Muhammadiyah dan Penjelasannya (Bab III), MKCH Muhammadiyah dan Pedoman Memahaminya (Bab IV), Kepribadian Muhammadiyah dan Penjelasannya (Bab V), Khittah Muhammadiyah (Bab VI), Kristalisasi Ideologi Muhammadiyah (Bab VII), Revitalisasi Ideologi Muhammadiyah (Bab VIII), Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua (IX), dan Penutup (Bab X).

Kehadiran buku ini jelas kontekstual. Seiring usia yang melintasi satu abad, warga Muhammadiyah boleh jadi bertambah. Pertambahan secara kuantitas itu tentu harus diiringi dengan peningkatan secara kualitas. Tegasnya, upaya untuk memahamkan tentang hakikat dan jati diri Muhammadiyah adalah keniscayaan. Sebab, dinamika keislaman Tanah Air semakin disesaki oleh sejumlah gerakan Islam yang militan. Gerakan Tarbiyah, Hizbut Tahrir Indonesia, Islam Salafi, Majelis Mujahidin Indonesia, Front Pembela Islam, Jamaah Tabligh, Negara Islam Indonesia, Majelis Tafsir Al-Qur’an, Ansharut Tauhid, Ikatan Jamaah Ahlul Bait, Jaringan Islam Liberal, dan paham-paham serupa kerap menggiurkan bagi sebagian warga Muhammadiyah.

Apalagi, masih terdapat kalangan yang terjebak, dengan memahami Muhammadiyah hanya sebatas gerakan dakwah. Mereka lupa bahwa term dakwah, dalam konteks Muhammadiyah, selalu gandeng dengan term tajdid. Kata purifikasi atau pemurnian (tajrid, tanzhif) juga selalu lekat dengan kata pembaruan dan dinamisasi. Inilah yang membedakan Muhammadiyah dengan gerakan Islam mana pun di dunia. Muhammadiyah tidak hanya berbicara soal pemurnian akidah, tetapi juga memajukan kehidupan di banyak bidang. Muhammadiyah selalu welcome terhadap sumber ilmu dari mana pun, sepanjang untuk kemajuan Islam.

Jati diri demikian kurang terungkap. Kerap ditemukan warga, bahkan aktivis Muhammadiyah masih awam tentang Islam Muhammadiyah. Bukan hanya di kampung, melainkan juga di kota. Ranting Muhammadiyah di kelurahan setempat memang hidup. Infak bulanan di masjid juga mencapai jutaan rupiah. Tetapi kegiatan keislaman dan pemberdayaan, sebagaimana telah menjadi trade mark Muhammadiyah masih terasa kering. Hasilnya, Muhammadiyah belum menjadi solusi atas berbagai problem masyarakat. Ranting Muhammadiyah di situ bisa dibilang wujuduhu ka ’adamihi.

Kondisi demikian diperparah dengan hadirnya para mubalig penyusup yang tampil di masjid-masjid Muhammadiyah. Keislaman yang diceramahkan kerap tidak sama, bahkan berseberangan dengan sikap Muhammadiyah. Misalnya, sikap mendukung NKRI mulai digoyang, Pancasila diharamkan, jihad hanya dimaknai dengan perang, istilah mahasiswa disalahkan, karena Maha itu copyright Allah dan haram untuk selain-Nya. Ini berbahaya. Warga Muhammadiyah akar rumput dapat saja berkesimpulan bahwa itu sikap Muhammadiyah. Bukan mustahil, lambat laun Muhammadiyah juga akan diasumsikan sebagai gerakan Islam yang kaku, garang, dan serba mengharamkan.

Padahal, Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang lincah, progresif, militan, dan selalu berada di depan organisasi-organisasi lain. KH Ahmad Dahlan menamakan gerakan Islam Muhammadiyah dengan istilah Islam Berkemajuan. Karena, secara substantif, Muhammadiyah mengandung unsur-unsur penting dari reformisme dan modernisme Islam. Sementara secara khusus, Muhammadiyah bisa dikategorikan gerakan Islam progresif.

Jati diri ini diamini oleh banyak pemikir dan peneliti dalam dan luar negeri. Alfian (1989) menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan reformis. Deliar Noer (1996) menyebut sebagai gerakan Islam modern. Azyumardi Azra (2005) menyebut sebagai gerakan salafiah wasithiah. Soekarno menyebut sebagai gerakan Islam progresif. William Shepard (2004) menyebut sebagai gerakan Islamic modernism. Nakamura (1983) menyebut sebagai gerakan yang sangat patuh dan disiplin, tetapi toleran. Charles Kurzman (2003) menyebut Kiai Dahlan dan Muhammadiyah sebagai Islam liberal.

Lantas, apa sebenarnya ideologi Muhammadiyah itu? Apa bedanya dengan ideologi gerakan Islam lain? Apa saja pemikiran yang termasuk ideologi Muhammadiyah? Bagaimana hubungan ideologi Muhammadiyah dengan pusparagam ideologi yang dimiliki gerakan Islam lain? Selamat menelusuri lembar demi lembar buku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s