Memburu Lailatul Qadar dengan Inspirasi Al-Quran

“Agar lebih semangat ‘memburu’ lailatul qadar, mari kita lihat keagungan malam ini berdasarkan kata-kata yang dipilih Allah sendiri dalam Al-qur’an,”

Demikian Ust. Muhammad Ali Imran, Lc., MA. membuka pengajian daring yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Malaysia dalam rangka memperingati Nuzul Al-quran pada Jum’at lalu, 15 Mei 2020.

Dalam Q.S. Al-Qadar, demikian Ustadz ahli tafsir lulusan Universiti Malaya ini, kita dapat menjumpai inspirasi Al-Quran tentang tingginya nilai lailatul qadar.

Dalam kajian daring kelima PCIA Malaysia itu, pembicara yang juga adalah Wakil Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia menjabarkan tujuh inspirasi dari Surat Al-Qadar.

Yang pertama ada pada penamaan Lailatul Qadr itu sendiri. Dinamakan demikian untuk menunjukkan kemuliaannya: “al-qadr” atau “al-syaraf” berarti kemuliaan.

“Ini tak lain adalah karena pada malam itu ditentukan takdir segala sesuatu untuk setahun ke depan.”

Kedua, sebelum menyebut “laylatul qadr”, Allah menyebutkan lebih dulu kejadian diturunkannya Al-Quran.

Menurut Ali Imran, ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tidak terpisahkan dengan Al-Quran yang mulia. Bahkan semua hal yang ada kaitannya dengan Al-Quran, disifati dengan kemuliaan.

Ketiga, lanjut Ali Imran, dalam Surah Al-Qadar yang sangat pendek, nama Lailatul Qadar disebut tiga kali secara berturut-turut tanpa menggunakan kata ganti.

“Ini berbeda, misalnya, dengan susunan yang ada di surat Al-Qari’ah yg juga disebut tiga kali berturut-turut, namun tidak diulang oenyebutannya sampai tiga kali.”

Keempat, laylatul qadr disebut lebih baik dari seribu bulan. Secara zahir ini sudah nampak kelebihannya, tidak hanya dari sudut kualitas, namun juga kuantitas.

Lalu, yang kelima, para malaikat termasuk Jibril AS pada malam itu turun ke muka bumi dengan ‘izin’ Tuhan mereka, bukan atas ‘perintah’ Allah.

Anggota Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah ini mengulas lebih lanjut, “Jadi ini mengisyaratkan bahwa para malaikat sendiri yg bersemangat ingin turun pada malam itu karena saking mulianya hingga mereka mendapat izin Allah swt.”

“Karenanya, turunnya para malaikat adalah indikasi banyaknya kebaikan dan keberkahan malam itu.”

Inspirasi keenam kita dapati bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw dan berhentinya wahyu, Jibril as tidak turun ke muka bumi kecuali pada malam lailatul Qadar. Menurut Ali Imran, Jibril adalah malaikat utama & utusan khusus yg biasanya diutus membawa titipan yg utama (wahyu). Jadi turunnya Jibril pada malam Lailatul Qadar karena ada sesuatu yg sangat utama pada malam itu.

Ketujuh, menurut pria Jakarta alumni S1 Libya itu, malam Lailatul Qadar itu diliputi “Salaam” (keselamatan, kesejahteraan, ketenangan, ketenteraman, keamanan dan kedamaian). Itulah hadiah spesial dari Pemilik nama As-Salam.

Nabi saw ada memberi kisi-kisi tentang waktu lailatul qadar, seperti sepuluh malam terakhir, malam yang ganjil, dan sebagainya. Namun, biarlah dia tetap menjadi rahasia agar kita terus semangat memburunya.

Maka apa yang perlu dilakukan? Kata ust Ali Imron.
Berikut nasihat-nasihatnya:

1. Kencangkan ikat pinggang! Sebuah isyarat untuk menambah kesungguhan dalam beribadah.

2. Qiyamullail, zikir, dan doa.

3. Memperbanyak baca doa yang telah diajarkan Nabi saw:
*اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي*

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha pemberi kemaafan, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kami.”

Lafaznya pendek, tapi susunan dan maknanya luar biasa. Ulang sebanyak mungkin.

4. Perbanyak interaksi dengan Al-Quran, dengan:
– baca sebanyak-banyaknya
– dengarkan murottal
– hafalkan mana yang bisa
– fahami maknanya, baca tafsir
– renungkan pesannya
– serap inspirasinya
– terapkan dalam kehidupan.

Serta mencoba menyerap inspirasi Al-Quran saat berburu lailatul Qadar

Ali Imron menyarankan agar kita memunculkan dalam diri kita perasaan seakan-akan al-Quran itu diturunkan khusus untuk kita. Mulai dengan surah-surah pendek yang biasa kita baca dalam solat. Pahami betul-betul artinya, refleksikan pesannya pada diri kita, lakukan apa yang disuruh, tinggalkan apa yang dilarang.

Sebagai contoh, ketika membaca surah “Al-Kautsar”, maka cobalah kita bayangkan Allah tengah berkomunikasi dg kita.

Surah al-Kautsar, demikian Ust Ali Imron, pada asalnya memang ditujukan kepada Nabi saw. Bahwa Allah akan memberi beliau telaga al-kautsar. Namun, al-Kautsar juga berarti nikmat yang banyak.

“Maka kita bisa memunculkan perasaan dalam diri, bahwa Allah tengah mengingatkan tentang nikmatNya yang teramat banyak untuk kita.”

“Ketika selanjutnya ada perintah: Solatlah! Maka kita usahakan solat yang kita lakukan adalah bentuk kesyukuran atas nikmat-nikmat tersebut. Sehingga diharapkan solat kita jadi lebih bermakna. Dan begitu seterusnya.”

Demikian nasihat Ust. Muhammad Ali Imron.

Wallahu a’lam.

“Agar lebih semangat ‘memburu’ lailatul qadar, mari kita lihat keagungan malam ini berdasarkan kata-kata yang dipilih Allah sendiri dalam Al-qur’an,”

Demikian Ust. Muhammad Ali Imran, Lc., MA. membuka pengajian daring yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Malaysia dalam rangka memperingati Nuzul Al-quran pada Jum’at kemarin, 15 Mei 2020.

Dalam Q.S. Al-Qadar, demikian Ustadz ahli tafsir lulusan Universiti Malaya ini, kita dapat menjumpai inspirasi Al-Quran tentang tingginya nilai lailatul qadar.

Dalam kajian daring kelima PCIA Malaysia itu, pembicara yang juga adalah Wakil Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia menjabarkan tujuh inspirasi dari Surat Al-Qadar.

Yang pertama ada pada penamaan Lailatul Qadr itu sendiri. Dinamakan demikian untuk menunjukkan kemuliaannya: “al-qadr” atau “al-syaraf” berarti kemuliaan.

“Ini tak lain adalah karena pada malam itu ditentukan takdir segala sesuatu untuk setahun ke depan.”

Kedua, sebelum menyebut “laylatul qadr”, Allah menyebutkan lebih dulu kejadian diturunkannya Al-Quran.

Menurut Ali Imran, ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tidak terpisahkan dengan Al-Quran yang mulia. Bahkan semua hal yang ada kaitannya dengan Al-Quran, disifati dengan kemuliaan.

Ketiga, lanjut Ali Imran, dalam Surah Al-Qadar yang sangat pendek, nama Lailatul Qadar disebut tiga kali secara berturut-turut tanpa menggunakan kata ganti.

“Ini berbeda, misalnya, dengan susunan yang ada di surat Al-Qari’ah yg juga disebut tiga kali berturut-turut, namun tidak diulang oenyebutannya sampai tiga kali.”

Keempat, laylatul qadr disebut lebih baik dari seribu bulan. Secara zahir ini sudah nampak kelebihannya, tidak hanya dari sudut kualitas, namun juga kuantitas.

Lalu, yang kelima, para malaikat termasuk Jibril AS pada malam itu turun ke muka bumi dengan ‘izin’ Tuhan mereka, bukan atas ‘perintah’ Allah.

Anggota Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah ini mengulas lebih lanjut, “Jadi ini mengisyaratkan bahwa para malaikat sendiri yg bersemangat ingin turun pada malam itu karena saking mulianya hingga mereka mendapat izin Allah swt.”

“Karenanya, turunnya para malaikat adalah indikasi banyaknya kebaikan dan keberkahan malam itu.”

Inspirasi keenam kita dapati bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw dan berhentinya wahyu, Jibril as tidak turun ke muka bumi kecuali pada malam lailatul Qadar. Menurut Ali Imran, Jibril adalah malaikat utama & utusan khusus yg biasanya diutus membawa titipan yg utama (wahyu). Jadi turunnya Jibril pada malam Lailatul Qadar karena ada sesuatu yg sangat utama pada malam itu.

Ketujuh, menurut pria Jakarta alumni S1 Libya itu, malam Lailatul Qadar itu diliputi “Salaam” (keselamatan, kesejahteraan, ketenangan, ketenteraman, keamanan dan kedamaian). Itulah hadiah spesial dari Pemilik nama As-Salam.

Nabi saw ada memberi kisi-kisi tentang waktu lailatul qadar, seperti sepuluh malam terakhir, malam yang ganjil, dan sebagainya. Namun, biarlah dia tetap menjadi rahasia agar kita terus semangat memburunya.

Maka apa yang perlu dilakukan? Kata ust Ali Imron.
Berikut nasihat-nasihatnya:

1. Kencangkan ikat pinggang! Sebuah isyarat untuk menambah kesungguhan dalam beribadah.

2. Qiyamullail, zikir, dan doa.

3. Memperbanyak baca doa yang telah diajarkan Nabi saw:
*اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي*

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha pemberi kemaafan, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kami.”

Lafaznya pendek, tapi susunan dan maknanya luar biasa. Ulang sebanyak mungkin.

4. Perbanyak interaksi dengan Al-Quran, dengan:
– baca sebanyak-banyaknya
– dengarkan murottal
– hafalkan mana yang bisa
– fahami maknanya, baca tafsir
– renungkan pesannya
– serap inspirasinya
– terapkan dalam kehidupan.

Serta mencoba menyerap inspirasi Al-Quran saat berburu lailatul Qadar

Ali Imron menyarankan agar kita memunculkan dalam diri kita perasaan seakan-akan al-Quran itu diturunkan khusus untuk kita. Mulai dengan surah-surah pendek yang biasa kita baca dalam solat. Pahami betul-betul artinya, refleksikan pesannya pada diri kita, lakukan apa yang disuruh, tinggalkan apa yang dilarang.

Sebagai contoh, ketika membaca surah “Al-Kautsar”, maka cobalah kita bayangkan Allah tengah berkomunikasi dg kita.

Surah al-Kautsar, demikian Ust Ali Imron, pada asalnya memang ditujukan kepada Nabi saw. Bahwa Allah akan memberi beliau telaga al-kautsar. Namun, al-Kautsar juga berarti nikmat yang banyak.

“Maka kita bisa memunculkan perasaan dalam diri, bahwa Allah tengah mengingatkan tentang nikmatNya yang teramat banyak untuk kita.”

“Ketika selanjutnya ada perintah: Solatlah! Maka kita usahakan solat yang kita lakukan adalah bentuk kesyukuran atas nikmat-nikmat tersebut. Sehingga diharapkan solat kita jadi lebih bermakna. Dan begitu seterusnya.”

Demikian nasihat Ust. Muhammad Ali Imron. Wallahu a’lam.

Dilaporkan oleh: Silmi Fitri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s