Zakat: Biaya atau Bukan?

Oleh: Prof. M. Akhyar Adnan

PATUT disyukuri semangat untuk melaksanakan zakat kian meningkat. Bahkan semangat ini sudah memasuki ranah entitas atau lembaga, seperti perusahaan komersial, baik lembaga keuangan syariah seperti perbankan atau takaful, maupun entitas ekonomi lain yang bergerak di sektor non-keuangan.

Sejalan dengan ini, lembaga-lembaga terkait, seperti Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) untuk tingkat dunia dan Malaysia Accounting Standard Board (MASB) sudah mengeluarkan standar perlakuan akuntansi untuk zakat bagi entitas ekonomi. AAOIFI misalnya mengeluarkan Financial Accounting Standard (FAS) No 9, sedang MASB mengeluarkan Technical Release (TR) i-1. Kedua produk ini, intinya mengatur bagaimana perlakuan akuntansi zakat bagi entitas yang membayar zakat.

Yang menarik, dari kedua produk di atas yang juga mungkin menjadi contoh nyata, atau diikuti oleh sebagian perusahaan lain termasuk di Indonesia, adalah bagaimana FAS 9 dan TR i-1 memperlakukan (treating) zakat dalam konteks akuntansi.

Sebagaimana lazimnya orang banyak berpikir, karena pembayaran zakat adalah sebuah proses cash-out-flow (aliran kas keluar), maka secara sederhana orang serta merta menyamakan atau mengkiaskan pembayaran zakat seperti kegiatan lain yang juga memberikan efek cash-out-flow. Kebanyakan kegiatan [dalam perusahaan atau secara pribadi] yang berakibat terjadinya aliran kas keluar adalah dan sekaligus diperlakukan sama dengan beban atau biaya, maka ketika seseorang mengeluarkan zakat, serta merta dianggap pula sebagai beban, atau biaya.

Apakah mesti demikian?

Aliran Kas Keluar, tidak selalu identik dengan beban.
Sebagaimana disebutkan di atas, sebagian besar kegiatan seperti itu [memberikan efek aliran kas keluar] memang dianggap beban atau biaya. Contoh ketika kita atau seseorang membayar gaji, upah, beban listrik, air, telepon, dan sebagainya. Tetapi, perlu diingat bahwa tidak setiap aliran kas keluar harus serta merta diakui sebagai beban atau biaya. Apa misalnya?

Ada dua misal yang paling populer. Pertama, ketika seseorang atau sebuah perusahaan membeli aktiva tetap (kendaraan, mesin, perabot kantor, dsb). Walau untuk pembelian aktiva tersebut terjadi aliran kas keluar, tetapi kas keluar tersebut tidak secara langsung diakui sebagai beban atau biaya. Aliran kas seperti ini – dengan berpijak antara lain kepada konsep matching cost against revenue dan going concern) – justru dicatat atau diakui sebagai aktiva alias aset. Dan aset merupakan bagian dari neraca (balance sheet). Aktiva, dalam hal ini harus diakui sebagai un-expired cost, atau cost yang ditunda pengakuannya sebagai expense (beban). Pengakuan expense dilakukan kelak dalam bentuk [beban] depresiasi, sesuai dengan umur ekonomis aktiva tersebut dan nilai residu (bila ada) pada akhir umur ekonomis.

Kedua, saat perusahaan membayar deviden kepada pemegang saham. Pembayaran deviden tunai sekalipun – walau juga mengakibatkan aliran kas keluar – tidaklah diakui sebagai beban ataupun biaya. Tetapi, pengeluaran ini akan mengurangi nilai modal seseorang yang tertanam dalam usaha tersebut (appropriasi).

Kedua contoh di atas jelas menggambarkan bahwa tidak semua aliran kas keluar merupakan, atau diakui sebagai beban atau biaya. Nah, sekarang bagaimana dengan pembayaran zakat?

Seperti disebutkan di atas, kedua lembaga akuntansi besar seperti AAOIFI (dengan FAS 9) dan MASB (dengan TR i-1) masih memperlakukannya sebagai beban, entah diklasifikasikan sebagai biaya di luar usaha, atau sekadar biaya umum. [Beban] Zakat ini, disetarakan dengan pajak, dikelompokkan sebagai bagian dari expenses yang akan mengurangi revenue dan atau income.
Barangkali, di sinilah orang ‘gagal’ dalam memahami makna zakat secara akuntansi. Tidak aneh bila awam salah, bila kedua lembaga besar yang disebutkan di atas saja juga tidak mampu mengartikulasikan zakat dalam akuntansi secara tepat dan cermat.

Berbeda Dimensi

Zakat mempunyai dimensi berbeda dengan berbagai bentuk kegiatan yang mengakibatkan aliran kas keluar, termasuk pajak. Seperti lazim diketahui, secara harafiah saja, zakat mempunyai makna membersihkan dan sekaligus juga tumbuh atau berkembang. Ini secara diametral sangat berbeda dengan makna beban atau expense.

Expense, misalnya didefinisikan sebagai Money expended or cost incurred in a firm’s efforts to generate revenue, representing cost of doing business.  [lihat misalnya http://www.businessdictionary.com/definition/expense.html]. Lebih jauh, sering juga disifatkan bahwa [pengeluaran] expense akan selalu mengurangi aktiva atau aset, dan atau menambah kewajiban atau utang. Pengertian ini, memang pas, bila diaplikasikan dalam banyak kegiatan usaha seperti membayar gaji, upah dan berbagai bentuk beban lainnya. Pengeluaran biaya – sesuai dengan sifatnya di atas – selalu berakibat pada berkurangnya aktiva dan atau bertambahnya kewajiban atau utang.

Bila dilihat definisi zakat, tentunya sama sekali tidak dapat ditemukan baik makna atau sifat expense itu. Karena zakat adalah kewajiban seseorang yang dihitung berdasarkan ketentuan-ketentuan tertentu, dan tidak bersifat mengurangi aktiva seseorang, sebaliknya, malah akan menambahnya, setidaknya bila berpedoman kepada apa yang ditegaskan oleh Allah dalam QS Al-Baqarah 261: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (termasuk zakat) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.

Sangat gamblang perumpamaan di atas yang juga sangat berbeda dengan bentuk pengeluaran lain selain zakat. Pertumbuhan sebesar 700 kali lipat, sama sekali tidak sebanding dengan berbagai bentuk pengeluaran biaya, yang pada hakekatnya justru mengurangi aktiva seseorang.

Hal senada, walau tidak persis juga dapat dilihat pada janji Allah dalam  QS Ibrahim 7: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.  Ini tentu saja kalau dipahami bahwa pengeluaran zakat pada hakekatnya juga adalah manifestasi syukur seorang hamba pada Sang Khalik dan Maha Pemberi. Sejatinya, pengeluaran zakat dapat dikiaskan dengan investasi.

Atas dasar inilah, maka bila zakat diperlakukan sebagai beban atau biaya, terjadi kekeliruan yang sekaligus pula sangat mungkin mempengaruhi perilaku. Adalah bersifat natural, seseorang selalu berpikir minimizing cost, sehingga manakala zakat dianggap sama dengan cost atau expense, maka selalu pula orang akan – secara sadar atau tidak – berpikir dan berupaya agar terjadi minimalisasi cost atau expense. Yang bersangkutan akan cenderung bersikap pelit, atau setidaknya ekonomis, dalam pengertian sangat menghemat. Hal sebaliknya, bila dalam pikiran seseorang bahwa zakat adalah investasi, maka yang akan terjadi adalah maksimalisasi, karena semua orang tahu, bahwa investasi berkaitan dengan return. Makin banyak investasi, tentunya akan makin banyak pula return-nya. Man yazra’ yahsud, demikian ungkapan sebuah pepatah bahasa Arab: siapa yang menanam, maka dialah (nanti) yang akan mengetam (panen).

Itulah sebabnya, seseorang harus tahu betul bagaimana memperlakukan sebuah transaksi dalam akuntansi secara tepat, karena sebuah transaksi dapat menjadi faktor determinan perilaku pihak-pihak terkait. Inilah salah satu makna semantik dalam akuntansi.(*)-b

Dinukil dari: Harian Kedaulatan Rakyat, edisi 9 September 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s