Keberanian Khalifah Al-Mu’tad

Oleh: Muhammad Arifin Ismail

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah “.( QS.AlMaidah : 8 ).

Khalifah al Mu’tad ( 242 Hijrah – 288 Hijrah ) adalah Khalifah yang adil dalam pemerintahan Bani Abbasiyah. Nama Lengkapnya adalah Ahmad bin Abu Ahmad al Muwafiq, tetapi beliau selalu dipangil dengan nama Abu Abbas al Mu’tad Billah. AlMu’tad dilantik sebagai Khalifah pada tahun 279 Hijriyah. Sebelumnya kekhalifahan dipegang oleh pamannya AlMu’tamid, dimana pemerintahan dalam keadaan lemah. Sebaik dilantik menjadi Khalifah, al Mu’tad berniat untuk membenahi pemerintahannya dengan menegakkan keadilan.

Khalifah sejak muda terkenal sebagai seorang pemberani, mempunyai pendirian yang tegas dan memiliki wawasan yang luas. Pernah suatu hari, pengawal pribadinya Ju’ayf Samarqandi menceritakan bahwa dia menemani khalifah untuk berburu. Tiba-tiba seekor singa menuju kearah kami. Khalifah berkata kepada pengawalnya : “ Tolong pegangkan tali kudaku, aku akan turun “. AlMu’tadi segera turun dari kudanya sambil mengikat ujung bajunya pada tali pingangnya. Setelah itu al Mu’tad menghunus pedangnya dan sarungnya dicampakkan kepada pengawalnya. Tanpa ada rasa takut, khalifah terus menerkan ke aras singa dan singapun sedang menerkam kearah Khalifah. AlMu’tad mengayun-ayunkan pedangnya sehingga singa disibukkan dengan ayunan pedang, dan akhirnya alMu’tad segera menikamkan pedangnya ke bahagian kepala singa. Tikaman tersebut membuat singa mengaum dan akhirnya mati terlentang “.

Keberanian alKhalifah juga terlihat dalam menegakkan keadilan. Pada suatu hari, Khalifah alMu’tad berjalan masuk ke kampung-kampung kediaman rakyatnya. Tiba-tiba dia mendengar teriakan minta tolong seorang petani labu. Segera alMu’tad memerintahkan pengawalnya untuk membawa petani itu ke hadapannya. Khalifah bertanya tentang persoalan yang di hadapinya. Petani itu berkata : ” Sesungguhnya beberapa orang tentera negeri ini telah merampas beberapa buah labu kepunyaanku ”. Al Mu’tad bertanya : ” Apakah engkau mengenali tentara yang merampas labu tersbeut ? ”. Petani itu menjawa : ” Ya ”, dan dia menceritakan identitas tentara yang merampas buah labunya. Khalifah memerintahkan agar tiga orang yang diceritakan itu segera dihadapkan kepada Khalifah. Setelah terbukti bersalah, ketiga orang tentara perampas labu itu segera dihukum penjara. Di pagi hari keesokan hari, masyarakat melihat ada tiga orang yang mati di atas tiang salib. Mereka berkata : ” Lihat, ketiga orang itu telah mati disalib sebab mencuri labu”.

Beberapa orang segera memprotes tindakan Khalifah yang telah membunuh tiga tentera hanya disebabkan mencuri labu. Mereka segera menghadap ke Khalifah untuk memprotes tindakan tersebut. Khalifah menjawab : ” Demi Allah, saya tidak pernah membunuh seseorang yang tidak boleh dibunuh semenjak saya menjadi Khalifah ”. Mendengar keterangan Khalifah, mereka bertanya :” Bagaimana dengan tiga orang tentera yang disalib disebabkan karena mencuri labu ”. Khalifah menjawab : ” Demi Allah, tiga orang yang disalib itu bukanlah karena mencuri labu. Mereka itu sebenarnya adalah tiga orang pencuri dan membunuh korban ”. Keputusan pengadilan atas tindakan kriminal tersbeut adalah hukuman mati, akhirnya ketiga orang pembunuh itu dieksekusi dan mayatnya digantung di atas tiang salib.

Masyarakat menyangka bahwa ketiga orang itu adalah tiga orang tentara yang telah mencuri timun, padahal sebenarnya tiga orang itu adalah pencuri dan pembunuh yang dieksekusi hukuman mati. Hal tersebut saya lakukan untuk menakut-nakuti tentara yang lain, agar jangan berbuat sesukanya kepada rakyat negeri ini ”. Mereka bertanya lagi : ” Jika demikian, apa yang terjadi dengan tiga orang tentara tersebut ? ”. Khalifah al Mu’ad berkata : ” Ketiga orang tentera itu telah dipenjara, dan nanti jika selesai masa tahanannya, dia akan dikeluarkan ”.

Ibnu Jauzi juga menceritakan bahwa pada suatu hari Khalifah alMu’tad mengumpulkan tentaranya di kawasan Simasiyah dan melarang tentaranya untuk mengambil buah dari kebun penduduk. Tiba-tiba ada seorang tentara berkulit hitam yang mencuri setandan kurma dari ladang penduduk. Akhirnya Khalifah alMu’tad segera memerintahkan agar tentara kulit hitam itu dihukum pancung. Melihat keputusan Khalifah, beberapa komandan tentara merasa tidak senang dengan keputusan alMu’tad terhadap pencuri korma tersebut. Khalifah alMu’tad segera menjelaskan keputusannya :” Saya telah mengenal tentera itu sejak masa kekhalifahan ayahku. Dia adalah seorang negro yang pernah datang menghadap ayahku untuk meminta jaminan keamanan (suaka politik). Kemudan dia masuk menjadi tentara karena kemahiran berperang yang dimilikinya. Pada waktu ayahku berkuasa, tentera ini pernah menganiaya seorang penduduk sehingga menyebabkan kematian orang tersebut. Ayahku tidak dapat menghukumnya disebabkan karena jaminan keamanan yang diberikan kepadanya, sehingga dia terlepas dari hukuman mati ”. Pada saat ini aku tidak memberikan kepadanya dan tidak meneruskan jaminan keselamatan kepadanya, sehingga sebagai khalifah aku berhak menghukumnya atas kesalahan yang telah dilakukannya dimasa yang lalu. Pada saat dia melakukan kejahatan mencuri buah kurma tersebut, maka aku mempunyai kesempatan untuk membongkar segala kesalahan yang telah dilakukannya, sehingga pengadilan memutuskan hukum mati dengan pancung kepadanya, dan dia tidak ada alasan untuk lari dari hukuman tersebut, sebagaimana yang dilakukannya pada masa ayahku berkuasa. Itulah sebabnya aku putuskan hukuman mati dengan pancung leher kepadanya. Tetapi hal ini tidak kuceritakan kepada tenteraku agar mereka berhati-hati dalam bertugas dan tidak berbuat sewenang-wenang kepada penduduk, walaupun hanya dengan mencuri setandan kurma ”.

Demikianlah kiat-kita Khalifah al Mu’tad untuk mendisiplinkan tentaranya daripada pebuatan yang buruk, sehingga penduduk merasakan keadilan hukum selama bersama Khalifah al Mu’tad. Disinilah bukti kesalehan dan keberanian seorang khalifah, sebab seorang pemimpim ketaatan kepada Allah tidak dapat diukur dengan banyak melakukan shalat, naik haji atau umrah, atau dengan banyak membangun masjid, dan menghadiri majlis pengajian, serta mengunjungi pesantren; tetapi kesalehan seorang pemimpin akan diuji bagaimana dia dapat menegakkan keadilan kepada penduduknya, terutama kepadaorang- orang dekatnya dan penegak hukum seperti tentara , hakim, polisi yang ada dibawah kepemimpinannya.

Demikian juga keberanian pemimpin bukan hanya di medan perang tetapi keberanian menegakkan keadilan kepada penegak hukum itu sendiri. ” Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan ” ( Qs. AlMaidah : 8 ) .

Semoga pemimpin hari ini dapat bercermin dengan keberanian dan keadilan yang ditegakkan oleh Khalifah al Mu’tad kepada tentaranya. Fa’tabiru Ya Ulil albab. (Muhammad Arifin Ismail / Bulletin Jumat ISTAID 22 Januari 2010 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s