Dari ‘Ndesit’ Hingga ‘Putit’: Inilah “DNA” Orang Muhammadiyah

Oleh: Darsun

Terlahir dari keluarga Muhammadiyah di kampung, kemudian bersekolah dan berorganisasi di Muhammadiyah, melihat kader-kader Muhammadiyah berjuang ikhlas menghidupi Persyarikatan adalah hal yang lumrah.

Merantau sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di negeri Jiran ini, walaupun harus berhadapan dengan berbagai keterbatasan, tidak sedikit pun mematikan semangat kami untuk menghidupi Persyarikatan di kampung: Desa Wotan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik.

Kami mengumpulkan dana guna membantu pendirian sebuah sarana ibadah, gedung pendidikan, dan juga perluasan tanah di kampung. Dulu belum ada telepon genggam/handphone. Kita datangi kader-kader Muhammadiyah di berbagai tempat di Malaysia ini dengan naik motor atau bus. Kepada mereka, kita serahkan surat/proposal, dan setelah gajian baru uang kita ambil dari mereka.

Gerakan membantu kegiatan Muhammadiyah untuk kampung kami itu sekarang dinamakan Ikawamuraw Malaysia (Ikatan Warga Muhammadiyah Ranting Wotan Malaysia). Agak sulit, memang, penyebutan akronimnya, tetapi itu tidak penting.

Pengumpulan dana secara tradisional seperti di atas tetap berjalan sampai hari ini. Namun, seiring perkembangan zaman, kita sudah berhasil mendirikan amal usaha kecil-kecilan yang kita namakan Muraw T&T (Muhammadiyah Ranting Wotan TopUp & Tickets), yang kini telah berkembang menjadi 3T (TopUp, Tickets, dan Transfer).

Di awal berdirinya dulu, Muraw T&T Malaysia sepakat akan memberikan tiga puluh persen keuntungannya kepada setiap seller/operatornya, ditambah lagi dengan biaya internet (wifi), dan perlengkapan peralatan, seperti printer dan lainnya.

Namun, dalam pelaksanaanya, jangankan menerima tip tiga puluh persen tersebut, bahkan semua sarana perlengkapan dibeli oleh para operator dengan uang mereka sendiri. Tidak sepeser pun ambil uang dari modal AUM.

Setelah acara Reuni Akbar TK ABA Wotan, dan Safari Dakwah PCIM-PCIA Malaysia Gresik-Lamongan pada 2018, Muraw T&T dibentuk di Wotan. Tujuan utamanya bukan keuntungan, namun lebih pada pemberdayaan kader.

Lagi-lagi, para operatornya tidak memikirkan bagiannya. Seorang programmer Muraw T&T, waktu pendirianya, di depan Ketua PRM Wotan, saya tanya, “Pak, Sampean dan istri juga bisnis sama yang beginian. Otomatis pelanggan Sampean adalah juga target pasar Muraw?”

Dia menjawab enteng, “Pak Darsun, rezeki sudah dijatah masing-masing oleh Tuhan.”

Jawaban itu membuat mata saya basah. Bahkan, hingga kini tetap merinding bila mengingatnya.

Peristiwa serupa juga saya ingat ketika PCIM Malaysia membangun suatu amal usaha ekonomi bernama Warung Soto Lamongan (Wasola) di Kuala Lumpur. Di depan bapak-bapak yang bekerja, saya ingat ucapan salah seorang warga PCIM Malaysia.

Katanya, “Orang Muhammadiyah itu sungguh hebat. Mereka rela diri sendiri kekurangan, tetapi jangan Muhammadiyah yang kekurangan”.

Tidak heran, dalam suatu kesempatan, terlontar cerita seorang tokoh di PCIM Malaysia ini yang terikat kontrak mengisi seminar 3-4 jam di setiap weekend dengan bayaran per jam sekitar Rp1.5 juta. Namun, atas sebab supaya weekend-nya dapat dipakai secara maksimal untuk kegiatan di PCIM Malaysia, dia akhiri kontrak tersebut dan menginfakkan weekend itu untuk Persyarikatan.

Masya Allah.

Orang Muhammadiyah itu, dari yang ndesit hingga putit, dari yang desa hingga puncak, semua punya spirit sama. Tidak berlebihan jika dikatakan inilah DNA orang Muhammadiyah. Yaitu, selalu ingin memberi, memberi, dan memberi. Tidak mau turun derajat dengan menerima, apalagi meminta.

Mungkin semua itu buah dari pesan keramat pendirinya, KH Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Hati ini merasa musykil juga tatkala mendengar  berita adanya kader yang tendensius apalagi oportunis. Tetapi biarlah. Toh Milad ke-108 Tahun Muhammadiyah tetap melangkah dengan jayanya. Mereka yang begitu akan otomatis tereliminasi dan terdegradasi dengan sendirinya.

Bagi yang tidak memahami, orang Muhammadiyah itu memang aneh, anti nalar. Tetapi, sekali lagi, dari yang ndesit hingga putit, memang begitulah “DNA” orang Muhammadiyah.

Penulis adalah Pekerja Migran Indonesia asal Gresik, Pengurus Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia.

Artikel ini pertama kali terbit di Website Anakpanah.id. Link artikel disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s