
Pada Sabtu, 14 Oktober 2023, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) berhasil menggelar Pelatihan dan Pembentukan Korps Mubaligh PCIM-PCIA Malaysia. Acara diselenggarakan di Sekretariat PRIM-PRIA Kepong, Batu Kentonmen, Kuala Lumpur.
Acara ini berlangsung serius-santai dan lancar, serta dimeriahkan oleh lebih dari lima puluh orang peserta yang merupakan warga Muhammadiyah Malaysia yang juga berkhidmat dalam PCIM, PCIA, PRIM, PRIA, dan IMM Malaysia.
Acara dibuka dengan alu-aluan yang dibawakan oleh Ketua PCIM Malaysia, Muhammad Ali Imran, Lc., M.A. Beliau menceritakan bahwa alasan di balik pembentukan korps mubaligh-mubalighat PCIM-PCIA adalah karena, sebagai gerakan Muhammadiyah dakwah, mempunyai tugas untuk berdakwah, mengajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan, sesuai isi surah Ali Imran ayat 104.
Adapun pelatihan ini dimaksudkan untuk membekali dan mempersiapkan para mubaligh, karena aktivitas tabligh berada dalam barisan terdepan di lingkungan Muhammadiyah. Ali Imran juga mengingatkan sekalian peserta untuk menyampaikan risalah Islam ke siapa saja, sebab itulah yang diwasiatkan oleh Rasulullah dalam khutbah wada’.

Selanjutnya, Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah PCIM Ustaz Subhan el-Hafiz, S.Psi., M.Si. menyebutkan bahwa program ini adalah realisasi dari Hadis Rasulullah, yang menyuruh umat Islam untuk menyampaikan pesan beliau walaupun hanya seayat. Dia juga menyoroti bahwa hal itu tidak hanya menjadi tugas para ustaz, melainkan juga warga awam.
Kemudian, menginjak acara inti adalah giliran Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Taufik Kasturi, Ph.D. untuk memberikan wejangan. Beliau mengingatkan bahwa konsep dakwah itu akan terus berubah mengikuti perkembangan zaman, dan cara dan gayanya pun mesti disesuaikan dengan generasi yang didakwahi. Beliau juga berpesan agar dakwah mesti dibawakan dengan cara dan gaya yang menyenangkan.
Sementara itu, dalam materi intinya, Taufik berpesan agar semua peserta, yang sebetulnya adalah mubaligh-mubalighat, perlu senantiasa memiliki niat membekali diri dan memperbaiki diri guna memperbaiki masyarakat. Oleh karenanya, manusia tidak boleh stagnan, dan mesti terus berjalan hingga sampai tujuan.

Dalam materi inti bertema “Konsep Diri Mubaligh Muhammadiyah,” beliau juga mengutip surah al-Kahfi dalam rangka menunjukkan begitu pentingnya memperbaiki diri bagi manusia, jangan sampai menyia-nyiakan waktunya di dunia dan kelak merugi di akhirat. Selain itu, beliau juga mengajak semua warga Muhammadiyah untuk bergerak dengan ikhlas karena kontribusinya itu dinilai oleh Allah SWT. Menurutnya, karakter mubaligh-muballighat Muhammadiyah adalah (1) memiliki iman yang dapat menghasilkan keikhlasan; (2) memiliki ilmu yang bisa menghasilkan amal; (3) memiliki akhlak yang bisa menghasilkan keteladanan; (4) semagat ibadah yang bisa melahirkan kesabaran dan kegigihan; (5) memiliki wawasan luas yang bisa melahirkan semangat dakwah.
