
Awal Muharram 1445 H menandai titik awal bagi Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia (PCIM Malaysia) untuk memulai paradigma baru, semangat baru, dan harapan baru dalam mengembangkan dan memperkenalkan Muhammadiyah ke pentas global.
Tepat pada 1 Muharram 1445 H/19 Juli 2023, hari yang bersejarah bagi umat Islam sedunia, PCIM Malaysia bergerak maju dengan tekad yang kuat untuk membuka diri, membangun komunikasi, dan menjalin jaringan dengan berbagai pihak melalui pertemuan dengan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Malaysia.
Dalam pertemuan bersejarah tersebut, ketua PCIM Malaysia, Muhammad Ali Imron, Lc., M.A., dan Sekretaris PCIM, Ahmad Fathoni, Lc., M.A., hadir mewakili PCIM Malaysia dengan membawa harapan besar tentang bagaimana PCIM Malaysia dapat memainkan peran yang lebih signifikan dalam isu-isu yang berkaitan dengan pendidikan, kemanusiaan, dan ekonomi keummatan.
Namun, dalam upaya menggapai tujuan mulia ini, PCIM Malaysia dihadapkan pada kendala yang krusial, yaitu statusnya yang belum terdaftar sebagai LSM oleh pemerintah Malaysia hingga saat ini.
Sejak didirikan pada 2017 hingga kini, telah ada beberapa upaya untuk mendaftarkan PCIM Malaysia sebagai organisasi resmi, namun hingga kini belum berhasil.
Meskipun demikian, pertemuan dengan berbagai LSM di awal Muharram tersebut memberikan secercah sinar harapan akan proses pendaftaran PCIM.
Dengan izin Allah, tahun ini diharapkan PCIM Malaysia akan menjadi organisasi yang terdaftar di pemerintah Malaysia, yang tentunya akan membuka jalan untuk lebih banyak lagi memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Acara tersebut menjadi momentum berharga dengan kehadiran beberapa LSM ternama, antara lain Ikatan Cendikiawan Minang Malaysia (ICMM), Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), Persaudaraan Pekerja Muslim Malaysia (PPMI), Benevolent Malaysia, Lembaga Peradaban Melayu (Adab), dan Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM).
Dalam sambutannya, Presiden ICMM, Prof. Dato’ Dr. Ghazali bin Dato’ Mohd. Yusoff, DPTJ., DMM., DNs., PJK, mengungkapkan antusiasme yang sangat tinggi atas kehadiran PCIM di Malaysia.
Sebagai seorang pengusaha yang memiliki beberapa perusahaan di Indonesia, beliau menyatakan bahwa pengalamannya berinteraksi dengan Muhammadiyah Indonesia telah menginspirasi dirinya untuk mengajak rekan-rekan LSM di Malaysia untuk mencontoh pendekatan Muhammadiyah dalam menjalankan organisasi, dedikasi, pengorbanan, persatuan, dan kesungguhan.
Menurut beliau, faktor-faktor ini merupakan kunci kesuksesan Muhammadiyah di Indonesia. Selain itu, sebagai penasihat di beberapa universitas di Malaysia, beliau juga berkomitmen untuk membantu PCIM dalam proses pendaftaran LSM tersebut.
Selain membahas status dan peran PCIM di masa depan, pertemuan ini melahirkan berbagai ide positif tentang kerja sama, persatuan, proyek kemanusiaan, ketahanan pangan, pendidikan, bahkan bidang bisnis.
Rektor UMAM, Assoc. Prof. Ir. Dr. Waluyo Adi Siswanto M.Eng., Ph.D, dan Wakil Rektor, Prof. Dr. Shahnor Basri, telah mencapai beberapa kesepakatan terkait pengembangan UMAM di Perlis, yang menambah keberlanjutan dari pertemuan bersejarah ini.
Salah satu momen yang menarik adalah hadirnya Dr. Zahari Osman, Direktur Centre for Teaching Thinking and Innovation University Malaya.
Perbincangan yang akrab, bermakna, penuh kekeluargaan, dan berfokus pada keumatan dan masa depan, telah memberikan semangat baru bagi PCIM Malaysia untuk lebih gigih dalam mewujudkan cita-cita mencerahkan dunia dan memberikan andil dalam membangun peradaban yang berkemajuan.
Menyoroti lebih dalam, PCIM Malaysia menyadari bahwa perjuangan mereka tidak akan berjalan mulus tanpa dukungan penuh dari masyarakat, LSM, dan pemerintah.
Meskipun telah mencatat banyak capaian positif dan menjadi entitas yang semakin diakui oleh berbagai pihak, status belum terdaftar sebagai LSM resmi masih menjadi hambatan signifikan bagi PCIM Malaysia dalam menjalankan program-programnya secara lebih luas dan terstruktur.
Melalui pertemuan dengan berbagai LSM ternama, PCIM Malaysia berharap dapat memperluas jaringan kerja sama, memperoleh dukungan yang lebih kuat dari para ahli, dan menggalang kebersamaan dengan LSM lainnya guna mewujudkan tujuan yang lebih besar.
Kebersamaan dalam membangun peradaban yang berkemajuan akan menjadi kunci kesuksesan bagi PCIM Malaysia dalam membawa Muhammad ke seluruh penjuru dunia.
Dalam pandangan Presiden ICMM, Prof. Dato’ Dr. Ghazali bin Dato’ Mohd. Yusoff, DPTJ., DMM., DNs., PJK, kerjasama dengan PCIM Malaysia akan memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana Muhammadiyah Indonesia telah sukses dalam mengintegrasikan diri dalam berbagai sektor kehidupan, dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi.

Keberhasilan Muhammadiyah Indonesia telah membuktikan bahwa kesungguhan, dedikasi, dan pengorbanan dalam menyebarkan ajaran agama dapat diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, dalam paparan mengenai usaha pendidikan, PCIM Malaysia yang telah memiliki tiga lembaga pendidikan nonformal berkomitmen untuk menghasilkan generasi muda yang lebih terdidik, berdaya saing, dan berperan aktif dalam membangun masa depan bangsa.
Perjuangan untuk menjadi LSM resmi harus diimbangi dengan upaya nyata dalam memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui kerja sama dengan berbagai LSM terkemuka, PCIM Malaysia memiliki peluang emas untuk mengembangkan proyek-proyek kemanusiaan, meningkatkan ketahanan pangan, dan menggalang sumber daya dalam menjawab tantangan sosial-ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Tentu saja, perjuangan ini tidak akan mudah, namun semangat dan komitmen para pimpinan dan anggota PCIM Malaysia, bersama dengan dukungan dari berbagai LSM dan tokoh terkemuka, akan menjadi pendorong utama untuk mencapai tujuan mulia ini.
Semoga peran PCIM Malaysia sebagai agen peradaban yang berkemajuan semakin terangkat, dan melalui langkah-langkah konkret, status sebagai LSM resmi akan segera terwujud untuk mewujudkan tujuan mulia dalam memperkenalkan dan mengembangkan Muhammadiyah ke pentas global.
